Showing posts with label Aquaculture World. Show all posts
Showing posts with label Aquaculture World. Show all posts

Friday, 3 October 2014

Cara Budidaya Ikan yang Baik

PENGERTIAN UMUM

A. Pengertian
 
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan:
1. Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan
dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari
praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang
dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan;
2. Sumber daya ikan adalah potensi semua jenis ikan termasuk biota
perairan lainnya;
3. Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus
hidupnya berada di dalam lingkungan perairan;
4. Benih ikan adalah ikan dalam umur, bentuk, dan ukuran tertentu yang
belum dewasa, termasuk telur, larva, dan biakan murni alga;
5. Induk ikan adalah ikan pada umur dan ukuran tertentu yang telah dewasa
dan digunakan untuk menghasilkan benih;

Budidaya Ikan Nila Lengkap (Download File MS. Word)



Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies yang berasal dari kawasan Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Bentuk tubuh memanjang, pipi kesamping dan warna putih kehitaman. Jenis ini merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak dibudidayakan setelah Ikan Mas (Cyrprinus Carpio) dan telah dibudidayakan di lebih dari 85 negara. Saat ini, ikan ini telah tersebar ke Negara beriklim tropis dan subtropics, sedangkan pada wilayah beriklim dingin tidak dapat hidup dengan baik.

Download: File MS. Word

Thursday, 2 October 2014

Budidaya Ikan Gurame Versi Bappenas



1. SEJARAH SINGKAT

Gurame merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih lebar, bagian punggung berwarna merahsawo dan bagian perut berwarnakekuning-kuningan/keperak-perakan. Ikan gurame merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici. Ikan gurami berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia), dan menyebar ke Malaysia, Thailands, Ceylon dan Australia. Pertumbuhan ikan gurame agak lambat dibanding ikan air tawar jenis lain. Di Indonesia, orang Jawa menyebutnya gurami, Gurameh, orang Sumatra ikan kalau, kala, kalui, sedangkan di Kalimantan disebut Kalui. Orang Inggris menyebutnya “Giant Gouramy”, karena ukurannya yang besar sampai mencapai berat 5 kg.

 
2. SENTRA PERIKANAN

Daerah di Indonesia yang menjadi sentra perikanan yaitu: Sumatera, NTB dan Jawa. Sedangkan di luar negeri yaitu: Thailand, Jepang dan Filipina.


3. JENIS

Klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut: 
Klas : Pisces 
Sub Kelas : Teleostei 
Ordo : Labyrinthici 
Sub Ordo : Anabantoidae 
Famili : Anabantidae 
Genus : Osphronemus 
Species : Osphronemus goramy (Lacepede)

Sunday, 28 September 2014

Panduan Singkat Budidaya Ikan Gurame



I. SELEKSI INDUK
Ikan gurame sudah bisa dipijahkan pada umur 3 tahun dan pads umur 10 tahun produksi
telur akan mulai menurun.

A. Menentukan Jenis Kelamin

a.1. Kriteria ikan game betina
- Warna badan terang
- Perut membulat
- Badan relatif panjang

b.2. Kriteria ikan gurame jantan
- Warna badan gelap dan agak pucat
- Gerakan lincah
- Perut dekat anus

B. Perbedaan Induk Jantan dan Betina Jantan
Jantan
- Di dahi terdapat tonjolan/cula
- Pangkal sirip dada bagian dalam
- Dagu warna kuning
- Bila diletakan di lantai pangkal ekor akan mengangkat
Betina
- Didahi tidak terdapat tonjolan/cula
- Pangkal sirip dada bagian dalam berwarna hitam
- Dagu berwarna keputih-putihan atau sedikit coklat
- Bila diletakan dilantai tidak ada reaksi

C. Ciri -ciri induk sudah matang gonad
- Perut membesar kearah belakang
- Anus akan nampak putih kemerahan
- Jika perut diraba akan terasa lembek

Parasit Ikan Hias Air Tawar (Download File MS. Word)



Inventarisi parasit telah dilakukan dengan metode survey pada ikan hias air tawar yakni, ikan cupang (Betta splendens Regan), ikan gapi {Poecilia reticulata Peters) dan ikan rainbow (Melanotaenia macculochi Ogilby). Pada ikan cupang ditemukan parasit Trichodinid (Ciliophora), Daclylogyrus sp. dan Gyrodactylus sp. (Platy-helminthes), Acanthocephala dan kiste); pada ikan gapi ditemukan Trichodinid (Ciliophora), Gyrodactylus sp. (Platyhelminthes) dan Lerneae sp. (Krustasea); pada ikan rainbowg ditemukan parasit Trichodinid (Ciliophora), Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp. (Platyhelminthes), Acanthocephala, Lerneae sp. {Krustasea) dan kista. Parasit yang ditemukan tergolong ekto, meso dan endoparasit. Dari penelitian ini terlihat adanya hubungan keberadaan parasit dengan ukuran panjang ikan.

Download: File MS. Word

Budidaya Ikan Gabus



Ikan gabus merupakan ikan air tawar liar dan predator benih yang rakus dan sangat
ditakuti pembudidaya ikan. Ikan ini merupakan ikan buas (carnivore yang bersifat
predator). Di alam, ikan gabus tidak hanya memangsa benih ikan tetapi juga ikan
dewasa dan serangga air lainnya termasuk kodok. Bahkan di Kalimantan pernah
dilaporkan gabus memangsa anak bebek. Ini masuk akal karena di sungai dan di
rawa-rawa Kalimantan terdapat jenis gabus berukuran besar (gabus toman/aruan
dan sejenisnya).

Ikan gabus dikenal dengan banyak nama. Ada yang menyebutnya sebagai aruan,
haruan (Melayu dan Banjar), kocolan (Betawi); bayong, bogo, licingan, kutuk (Jawa);
dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris, belut juga disebut dengan berbagai nama,
seperti common snakehead, snake-head murrel, chevron snakehead, striped
snakehead juga aruan. Name ilmiahnya adalah Channa striata (Bloch, 1793) dan
ada yang menyebutnya Ophiocephalus striatus.

Kelas: Pisces

Subkelas: Actinopterygii

Ordo: Perciformes

Famili: Channidaeae

Genus: Channa

Species: Channa sriata/ Ophiocephalus striatus

Budidaya Ikan Lele Versi Bappenas


1. SEJARAH SINGKAT
Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan
kulit licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara
lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan
Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa
Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond
(Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang).
Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish.
Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai
dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air.
Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam
hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat
gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan.


2. SENTRA PERIKANAN
Ikan lele banyak ditemukan di benua Afrika dan Asia. Dibudidayakan di
Thailand, India, Philipina dan Indonesia. Di Thailand produksi ikan lele ± 970
kg/100m2/tahun. Di India (daerah Asam) produksinya rata-rata tiap 7 bulan
mencapai 1200 kg/Ha.

Sunday, 17 February 2013

Laporan Pembenihan Ikan Mas di PT. MN Fish Farm, Cijambe, Subang (18 Februari 2012)


Jurusan kita memang luar biasa, tak hanya ilmu yang kita dapatkan, tapi selalu ada kesenangan dan kegilaan di setiap momentnya.
Untuk contoh laporannya silahkan klik di bawah ini untuk mendownloadnya:

Download: Laporan Pembenihan Ikan Mas

Terimakasih, semoga bermanfaat!.

Saturday, 17 November 2012

Kenangan Praktik Kerja Industri (Prakerin) di UPTD Balai Benih dan Pengembangan Produksi Ikan (BBPPI) Babakan Jawa, Majalengka.

Prakerin atau Praktik Kerja Industri merupakan kegiatan praktik yang langsung terjun didunia industri yang dilakukan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk muridnya. Disekolah Saya atau tepatnya SMK Negeri 1 Mundu Cirebon, kegiatan Prakerin dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu di kelas X dan kelas XI. Prakerin kali ini merupakan Prakerin Saya yang pertama yang pastinya sewaktu Saya kelas X, dalam Prakerin ini banyak sekali ilmu yang Saya dapatkan, disinilah awal Saya mengerti dan mencintai Budidaya. Saya ingin berbagi ilmu yang Saya dapatkan sewaktu Prakerin, namun tidak semuanya ya, kalau semuanya pasti akan banyak sekali, disini Saya hanya akan berbagi tentang teknik pembenihan ikan Nila yang dilakukan di UPTD BBPPI Babakan Jawa, Majalengka.

A. Pemeliharaan Induk
Sebelum dipijahkan, induk jantan dan induk betina dipelihara dikolam terpisah untuk menghindari terjadinya pemijahan liar. Keuntungan lain memisahkan induk jantan dan induk betina diantaranya:
  • Kualitas telur yang dihasilkan lebih baik.
  • Memudahkan seleksi induk.
  • Bisa dengan mudah membedakan induk yang sudah dan belum dipijahkan.
Untuk mendukung kondisi induk, diusahakan kondisi lingkungan tempat pemeliharaan induk dalam keadaan baik. Disamping itu, pemberian pakan untuk pematangan gonad harus mencukupi, yakni dosis 3% dari bobot biomassa agar pematangan gonad lebih optimal.

B. Persiapan Kolam Pemijahan
Persiapan kolam dilakukan untuk memberantas hama dan penyakit, memperbaiki saluran inlet maupun outlet, membuang gas beracun dan menumbuhkan pakan alami.

Thursday, 8 November 2012

Pembesaran Ikan Bawal Bintang di Tambak (Versi STP - Japfa Group)

            Latar Belakang
Potensi lahan pertambakan di Indonesia diperkirakan mencapai 913.000 ha. Akan tetapi, menurut catatan departemen kelautan dan perikanan (DKP, 2004), luas areal pertambakan yang dimanfaatkan hingga tahun 2004 baru sekitar 378.700 ha atau 40% dari potensi lahan pertambakan. Luasan tersebut pun mengalami pengurangan karena berbagai faktor, di antaranya alih fungsi lahan untuk kepentingan industri dan pemukiman penduduk.
Potensi unggul perikanan di antaranya adalah ikan bawal bintang. Bawal bintang (Trachinotus blochii) adalah salah satu jenis komoditas ikan air laut pelagis yang merupakan spesies introduksi dari Taiwan dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii) atau yang dikenal dengan Pompano, mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Ikan ini dapat dibudidayakan di Indonesia dan mempunyai daya adaptasi tinggi dan mudah dibudidayakan. Ketersediaan benih bawal bintang sebelum 2007 masih diimpor dari Malaysia yang harganya mahal yaitu seharga Rp 4000,00 dengan ukuran 3 cm. Akan tetapi  pada saat ini Indonesia melalui Balai Budidaya Laut Batam sudah dapat memproduksi benih bawal bintang dengan pemijahan induk yang berasal dari alam dan dijual dengan harga Rp 400,00 hingga Rp 500,00 per cm (Anonim, 2007).

Tuesday, 6 November 2012

Peranan Faktor Lingkungan dalam Pemuliaan Ikan

ABSTRAK
Kegiatan pemuliaan ikan selain dipengaruhi oleh genetik, juga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Walaupun faktor ini tidak diwariskan kepada generasi berikutnya, tetapi mempengaruhi fenotif suatu individu atau populasi ikan yang akan dibudidayakan, karena faktor lingkungan yang buruk akan menutup potensi genetik dari individu atau populasi tersebut. Aspek lingkungan yang berpengaruh terhadap pemuliaan tersebut adalah padat tebar dan mortalitas; umur, suhu, dan kualitas air; sifat biologi dan fisiologi; maternal efek; kecondongan, dan cara pemberian pakan; kompensasi pertumbuhan; dan pemeliharaan komunal (bersama). Usaha pemuliaan dan budi daya perlu memperhatikan faktor-faktor lingkungan.

PENDAHULUAN
Pemuliaan ikan merupakan kegiatan untuk menghasilkan ikan unggul melalui perbaikan sifat yang terukur. Pemuliaan dapat dilakukan melalui cara seleksi. Prinsip dasar dari seleksi adalah mengeksploitasi sifat aditif  dari allela-allela pada semua lokus yang mengontrol sifat terukur untuk memperbaiki suatu strain ikan (Gustiano et al., 1999).

Monday, 5 November 2012

Hibridisasi Sebagai Alternatif Penyediaan Ikan Unggul

ABSTRAK
Upaya peningkatan produksi, yang merupakan target utama pembangunan subsektor perikanan dapat dicapai antara lain melalui perbaikan teknik budi daya dan penyediaan benih yang cukup dan berkualitas. Hibridisasi atau teknik kawin silang, yang bertujuan untuk memperbaiki laju pertumbuhan, menunda kematangan gonad, dan meningkatkan ketahanan terhadap penyakit adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan benih unggul. Di Indonesia, teknik hibridisasi telah berhasil meningkatkan laju pertumbuhan antara lainterhadap ikan-ikan Cyprinid, cichlid, clariid, dan pangasiid.

PENDAHULUAN
Peningkatan produksi merupakan target utama pembangunan subsektor perikanan. Meningkatkan produksi dengan perbaikan teknik budi daya saja tidak akan berdaya guna penuh tanpa didukung oleh ketersediaan benih yang cukup dan unggul. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menyediakan benih-benih unggul tersebut adalah dengan jalan hibridisasi.
Hibridisasi merupakan inseminasi (perkawinan yang menghasilkan pembuahan) heterospesifik (antara spesies yang berbeda) yang dapat menghasilkan hibrida dari induk yang digunakan (Gustiano, 1995). Kegiatan tersebut harus dapat menjawab pertanyaan mengenai jenis hibrida yang diperoleh berdasarkan ploidi (set kromosom pada nucleus suatu organisme) induk yang digunakan sebagai masukan bahan genetik, apakah hibrida tersebut merupakan gamet haploid, diploid, atau polispermi (penetrasi dua atau lebih sel sperma terhadap satu sel telur pada saat yang sama ketika terjadi pembuahan) (Chevassus, 1983; King & William, 1985). Selanjutnya bagaimana mengenai proses pembuahannya (Karyogami), apakah jenis genom yang diperoleh merupakan hibrida (hasil persilangan) atau hasil parthenogenesis (terbentuknya individu baru dari sel telur tanpa mengalami proses pembuahan).

Sunday, 4 November 2012

Cawing Hidung (Schismatorhynchos heterorhynchos), Ikan Asli Indonesia yang Harus Mendapat Perhatian

ABSTRAK
Ikan Cawing hidung (Schismatorhynchos heterorhynchos) merupakan ikan asli Indonesia termasuk golongan cyprinidae yang sudah sangat langka dijumpai di daerahnya yaitu pegunungan di Sumatera Selatan. Ikan ini mempunyai ciri bagian mulut dan hidung yang bercabang. Jika ini dapat didomestikasi, maka ikan ini berpotensi untuk dijadikan ikan hias yang dapat dijual dengan nilai yang tinggi karena kekhasan tersebut dan warnanya yang cantik.

PENDAHULUAN
Sumber daya genetik ikan air tawar sudah banyak dipublikasikan walaupun secara parsial di suatu kawasan atau badan air. Masih banyak spesies yang belum terungkap secara jelas, apalagi keberadaan ikan tersebut pada saat ini ada yang telah mulai punah akibat kerusakan lingkungan perairannya oleh berbagai sebab.
Salah satu spesies yang telah tertangkap pada tahun 2005 yaitu ikan cawing hidung. Schismatorhynchos heterorhynchos di sungai Rawas yang merupakan hulu sungai Musi di Kabupaten Musi Rawas. Ikan ini tertangkap bersama ikan botia dan berbagai jenis rasbora. Pada waktu tertangkap ikan ini terdiri atas 3 ekor betina dan 2 ekor jantan yang matang kelamin. Lokasi penangkapan adalah daerah berarus deras dan jernih dengan dasar bebatuan di kaki Pegunungan Bukit Barisan.

Saturday, 3 November 2012

Manfaat Hutan Mangrove Pada Ekosistem Pesisir (Studi Kasus Kalimantan Barat)

ABSTRAK
Hutan mangrove memiliki potensi untuk meningkatkan aktivitas pembangunan khususnya pengembangan usaha tambak. Fungsi dari ekosistem hutan mangrove dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi fisik, biologik, dan ekonomi. Dari hasil studi kasus pada kawasan mangrove pada tambak di Kecamatan Daung Kabupaten Pontianak menunjukkan hasil peubah kualitas air yang cukup baik untuk pengembangan budi daya udang.

PENDAHULUAN
Umumnya mangrove di Indonesia ditemukan di seluruh kepulauan di Indonesia. Hutan mangrove terluas terdapat di Irian Jaya (1.350.600 ha), Kalimantan (978.200 ha) dan Sumatera (673.300 ha) (Rafindal, 2002). Di Provinsi Kalimantan Barat luas ekosistem mangrove yang tercatat pada tahun 1991 diperkirakan 40.000 ha (Direktorat Jenderal Perikanan dalam Dahuri et al., 1996). Dari seluruh luasan tersebut yang potensial untuk tambak 26.704 ha, dan yang telah dimanfaatkan sekitar 3.061 ha (11,46 % dari lahan potensial) (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat, 2002). Hingga tahun 1999 hutan mangrove ini menjadi seluas 90.000 ha tersebar di beberapa daerah sepanjang pantai yang mengandung lumpur dan daerah payau, antara lain terdapat di muara sungai Duri, Pantai Singkawang, dan Pemangkat, delta Sungai Kapuas bagian selatan, muara sungai Ambawang, Pulau Padang Tikar, Pulau Maya, daerah muara sungai Kualan serta Pantai Ketapang. Berdasarkan data tersebut maka daerah Kalimantan Barat khususnya masih cukup luas hutan mangrove yang dapat dimanfaatkan (Ramdiana, 1999).

Friday, 2 November 2012

Mengenal Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii)

ABSTRAK
Dua jenis rumput laut yang merupakan komoditas utama budi daya di Indonesia yakni Gracillaria di tambak dan Eucheuma/Kappaphycus di laut. K. alvarezii atau yang lebih popular dengan nama Eucheuma cottonii merupakan salah satu spesies yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Peluang pasar yang tinggi menjadikan komoditas ini semakin banyak diminati. Indonesia merupakan penghasil rumput laut, karaginan terbesar kedua dunia setelah Filipina. Untuk mengenal lebih dekat rumput laut tersebut, makalah ini akan memberikan gambaran secara umum karakteristik  K. alvarezii yang meliputi taksonomi, morfologi, reproduksi, eko-fisiologi dan distribusi, serta dilengkapi dengan dukungan hasil riset mengenai pertumbuhan dan analisis genetic antara dua perbedaan warna dari spesies rumput laut tersebut.

PENDAHULUAN
Rumput laut atau seaweed sangat popular dalam dunia perdagangan yang dalam ilmu pengetahuan dikenal sebagai alga atau masyarakat biasa menyebutnya “ganggang”. Rumput laut, salah satu komoditas hasil perikanan, merupakan sumber utama penghasil agar-agar, alginat, dan karaginan yang banyak dimanfaatkan dalam industry makanan, kosmetik, farmasi, dan industry kertas, tekstil, fotografi, pasta, dan pengalengan ikan. Dengan demikian, prospek rumput laut sebagai komoditas perdagangan semakin cerah, baik dalam memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun kebutuhan ekspor (Tabel 1). Tingginya peluang pasar tersebut (sekitar 72.000 ton) pada tahun 2002 memberikan peluang yang menjanjikan bagi pembudi daya rumput laut. Pengembangan teknologi budi daya rumput laut merupakan salah satu upaya dalam memenuhi kebutuhan tersebut secara kontinyu dengan kualitas yang lebih baik.

Thursday, 1 November 2012

Pemuliaan Ikan Mas: Pelajaran Berharga dari Hongaria

ABSTRAK
Ikan mas sebagai salah satu komoditas ikan air tawar andalan telah mengalami masa kritis dalam pengembangannyasebagai akibat serangan koi herpes virus. Upaya penyelamatannya antara lain dengan menghasilkan ras-ras ukan mas yang unggul melalui kegiatan pemuliaan. Salah satu negara yang telah berhasil dalam pelaksanaan kegiatan pemuliaan ikan mas adalah Hongaria yang telah memproduksi sedikitnya tiga ras ikan mas unggulan yaitu SZ P31, SZ P34 dan SZ P36. Dengan mempelajari keberhasilan negara ini diharapkan dapat mendorong pencapaian kegiatan serupa di Indonesia.

PENDAHULUAN
Dewasa ini, budaya ikan mas di KJAmaupun di kolam boleh dikatakan sudah sangat menurun sekali jumlahnya dibandingkan dengan keadaan budi daya pada era tahun 1980-an. Koi Herpes Virus (KHV) merupakan salah satu penyebab yang mempercepat buruknya kondisi budi daya ikan mas ini, disamping faktor harga pakan yang terus melangit. Berbagai upaya riset telah banyak dilakukan antara lain riset pemuliaan dengan mencari varietas-varietas yang tahan KHV maupun riset patologi melalui pembuatan vaksin KHV, namun hasil yang didapatkan masih jauh dari harapan. Ironisnya, program pemuliaan ikan mas yang sempat dimulai oleh Balai Riset Perikanan Budidaya air tawar (BRPBAT) sejak tahun 1990-an, untuk saat ini hanya merupakan salah satu kegiatan kecil yang kurang terkoordinir dengan program-program serupa di instansi-instansi budidaya lainnya.

Friday, 26 October 2012

Pembesaran Ikan Bawal Bintang di Tambak

A. Persiapan Tambak
Adapun tujuan dari persiapan tambak yaitu
  • Menjadikan kualitas tambak agar lebih baik sesuai dengan habitat ikan bawal bintang.
  • Untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan produktivitas lahan, bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup.
Pengeringan Tambak ( Penjemuran )
Langkah kedua persiapan tambak setelah pengangkatan lumpur dan perbaikan pematang tambak adalah pengeringan dasar tambak atu disebut juga dengan penjemuran. Penjemuran tambak dilakukan selama 2 – 3 minggu. Penjemuran tambak dilakukan sampai tanah menjadi retak – retak atau kadar air 15 – 20 %, karena pada saat tanah retak – retak zat – zat yang ada di dalam tanah akan teroksidasi.

Wednesday, 17 October 2012

Ternyata Ikan Nila (Oreochromis niloticus), Mempunyai Potensi yang Besar untuk Dikembangkan


ABSTRAK
Ikan ini menjadi sangat popular setelah pertama kali diintroduksikan ke Indonesia pada tahun 1969 dari Taiwan. Ikan ini dikenal karena mudah berkembang biak, pertumbuhannya cepat, anaknya banyak, ukuran badan relative besar, tahan penyakit, sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan, relative murah harganya, dan enak dagingnya. Keunggulan ikan ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya produksi budi daya ikan inidi Indonesia dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2002. Daerah yang terbanyak menghasilkan ikan nila yang dibesarkan pada system kolam dan KJA adalah provinsi Jawa Barat. Pembudi daya umumnya sangat percaya keberhasilan usaha budi daya ikan nila karena produktifitasnya yang tinggi., dalam hal lingkungan mempunyai sifat yang tahan (resistant), dalam hal pakan secara alami adalah plankton feeder yang cenderung omnivorous, sehingga rantai makanannya pende, dan dalam hal mutu genetic mempunyai sifat cepat pertumbuhannya, apalagi dengan system monoseks jantan. Ikan ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Potensi lahan budi daya di perairan umum di Indonesia seluas 141.690 ha baru dimanfaatkan sekitar 45,5 % (64,469 ha) yang penyebarannya terkonsentrasi di beberapa daerah saja. Di air payau ikan nila sangat berpotensi untuk dikembangkan di tambak-tambak udang intensif yang banyak ditelantarkan. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menyatakan potensi nasional tambak sebesar 1 juta ha, pemanfaatannya baru 35 % atau seluas 350.000 ha. Di air laut berdasarkan beberapa literature pembesaran ikan nila merah masih bias dilakukan. Lahan potensial budi daya di air laut diperkirakan mencapai 1,9 juta ha. Masalah-masalah yang masih ada seperti penyebaran tingkat pemanfaatan perairan umum, pemanfaatan Culture Based Fisheries di Jawa, dan pemodal besar yang hanya bertujuan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa mempedulikan lingkungannya harus dipecahkan. Selain itu perlu peningkatan penyediaan dan distribusi fasilitas sarana produksi seperti : pakan, pupuk, obat, vaksin, dan lain-lain. Pengelolaan induk nila yang terkoordinasi antar pembudi daya dengan aparat yang berwenang agar tidak terjadi penurunan mutu genetic. Penelitian masih perlu dilanjutkan terutama terhadap penurunan mutu genetic ikan nila, utamanya dibidang pembesaran (grow-out).

PENDAHULUAN
Ikan nila (Oreochromis niloticus), dengan nama internasional nile tilapia berasal dari sungai Nil di Afrika, merupakan salah satu jenis ikan budi daya yang cukup dikenal baik secara nasional maupun internasional. Ikan ini menjadi sangat popular setelahpertama kali diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1969 dari Taiwan (Widiyati et al., 1999), dan disebarkan ke setiap provinsi pada tahun 1971. Ikan ini terkenal karena mudah berkembang biak, pertumbuhannya cepat, anaknya banyak, ukuran badan relative besar, tahan penyakit, sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan, relative murah harganya, dan enak dagingnya (Wardoyo, 1997), disamping sifatnya pemakan plankton yang cenderung omnivorous, artinya tidak memerlukan pakan yang khusus. Satu kelebihan lain dari ikan nila adalah kemampuannya untuk hidup pada rentang salinitas yang lebar, sehingga ikan ini dapat dibudidayakan di air tawar, payau maupun di laut.